09/08/13

Masihkah ada Pilihan Untukku ?

Kisahku dimulai saat aku dilahirkan dalam keluarga yang pas-pasan, hidup dalam kekurangan, saat orang lain banyak bersyukur atas rahmatNya, aku malah bingung, apa yang harus kusyukuri.

Aku hidup dalam kesusahan dan ayah-ibuku hanyalah seorang pemulung, hidup kujalanji dengan apa adanya. Mungkin anak orang lain berontak pada Tuhan karena ayah ibunya tidak membelikannya boneka barbie yang cantik atau sebuah baju baru yang sedang trend. Tapi aku berontak pada beling kaca yang melukai tanganku saat mengais sampah.

Biasanya orang kaya membuang pecahan kaca mereka ke tong sampah dan dibungkus dalam sebuah plastik dan terkadang tak sengaja melukai tanganku. Beling tadi ku maki "bangs*t " tanganku luka lagi, ku memakinya.

Lalu saat ku masih kecil ayahku pergi meninggalkanku untuk selamanya karena penyakit paru-parunya, mungkin kebanyakan menghisap debu semen saat ia menjadi kuli bangunan dulu, tapi kukuatkan diriku, mungkin hidup ini harus menderita.

Lalu masa remajaku berjalan dengan cara yang sama, hanya bentuk tubuhku saja yang mulai berubah sedikit menggelembung pada bagian-bagian tertentu. Aku mulai mengenal masa pacaran dan aku mengenal si Boy, si Boy yang lumayan ganteng dan sedikit urakan, mungkin karena pengaruh kimia hormon aku merasa nyaman saja di dekatnya, dan berpacaran dengannya.

Hingga akhirnya dia meninggalkanku dalam keadaan hamil, hamil karena kami pernah melakukannya namun saya tidak tahu apa yang akan terjadi apabila melakukan itu. Saat ku meminta pertanggungjawaban eh malah dia kabur meninggalkanku.

Saat  itu aku panik, dalam benakku aku harus menggugurkan bayiku, bagaimana aku bisa hidup bersama ibu sementara aku harus menghidupi keluarga yaitu ibu. Bersama ibu akupun mencari sang dukun bayi dan malam itu akupun ketakutan sekali aku harus membubuh bayi yang tidak bersalah. Tuhan aku percaya Kau ada,  ampuni aku harus melakukan ini, Kau yang menempatkan aku pada situasi ini ucapku.

Setelah kugugurkan bayi itu, aku menjadi minder di lingkunganku, aku mulai merasa ada saja tetangga sesama pemulung yang mulai membicarakanku, atau ini hanya perasaanku saja. Akhirnya ada tawaran dari temanku dari daerah Sumatera, katanya daerah Jambi. Aku tidak tahu dimana itu Jambi, katanya ada pekerjaan untuk menjadi seorang pelayan rumah makan.

Karena kondisi lingkunganku yang tidak lagi nyaman, aku terima saja tawaran itu dan akupun berangkat ke Jambi, 2 hari 2 malam akhirnya aku sampai di Jambi dan di inapkan di Pucuk. Pucuk adalah sebuah daerah di Kota Jambi, katanya aku disana dulu sebentar agar segera dibuatkan KTP dan surat-surat lain agar identitasku jelas.

Sambil menunggu keluarnya KTP ternyata di Pucuk itu aku disuruh melayani tamu, ternyata aku dijadikan PSK oleh orang yang mengajakku tadi, aku dijual dengan mucikari disana, aku harus membayar biaya perjalanan dari Jawa ke Jambi dan biaya membuat KTP tadi. Aku ingin melarikan diri tapi tidak bisa, mau lari kemana ? Keluarga di Jambi tidak ada. Saat kulihat KTP ku ternyata usiaku ditambah seharusnya usiaku 17 tahun ternyata ditulis di KTP 21 tahun.

Dengan berat hati akupun melayani para pria-pria yang haus nafsu yang terkadang mereka sudah mabuk dan bermain kasar sesuka mereka. Dengan bau rokok yang beragam, dan bau tubuh yang bermacam-macam pula. Aku terkadang menangis saat bermain dengan mereka, aku sangat terhina melakukan ini, hancur jiwaku, aku harus bagaimana, aku dibeli dalam 2 jam dan dalam 2 jam itu tubuhku adalah milik mereka.

Aku percaya ada Kau Tuhan, tapi apakah Kau sedang Tidur, Tidakkah Kau dengar jeritan hatiku, apakah aku bagian dari rencanamu?
Apakah Kau sedang bermain catur ? menjadikan aku pion-pion hiburanMu ? menjadikan alat pembanding bagi yang baik dan buruk bagi umatmu ?. Kata orang-orang Kau penyayang, tapi belum kurasakan Kasih Sayangmu ?


(kisah wanita Pucuk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...