06/07/13

Apakah ada Kartel Minyak ?

Beberapa saat yang lalu terjadi kenaikan BBM yang dilakukan oleh pemerintah, Harga Premium yang sebelumnya Rp.4.500,- menjadi Rp.6.500,- dan harga Solar yang sebelumnya Rp.5.500 menjadi Rp. 6.500,-.

Minyak mentah yang tadinya murah dijual ke luar negeri menjadi mahal ketika dibeli oleh perusahaan minyak negara, dan itu disengaja oleh para pengusaha minyak untuk mengeruk keuntungan.
Nah pengolahan yang terkesan “tidak efektif” inilah yang menjadikan para pengusaha minyak (tepatnya kartel minyak karena mereka terorganisir)   makin kaya dari setiap liter minyak yang dikonsumsi oleh rakyat Indonesia, coba saja kalikan satu liter saja pengusaha mendapatkan Rp.1000,- dikalikan jumlah penduduk Indonesia maka nilainya sangat fantastis.

Kemudian dari segi penjualan, pemerintah sebagai otoritas yang berhak menentukan harga bisa saja menentukan harga BBM dengan cara kongkalikong dengan pengusaha minyak. Pengusaha minyak “memesan harga” yang sesuai dengan keinginan mereka, kalau mereka mendapatkan untung dan mereka membaginya dengan sang penentu kebijakan harga.

Sangat tidak benar sebenarnya bahwa subsidi BBM memberatkan anggaran pemerintah, kan APBN juga diperoleh dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat, jelaslah dikatakan bahwa penyumbang kas negara terbesar adalah pajak. Yang sebenarnya terjadi bukan rakyat yang membebani anggaran pemerintah, namun anggaran pemerintahlah yang membebani rakyat.

Subsidi adalah hak rakyat, karena sebenarnya merekalah yang membayar subsidi tersebut melalui pajak yang mereka bayarkan, jd dari rakyat dan untuk rakyat.
Satu keganjilan lagi mengapa premium bisa naik Rp.2000,- rupiah sedangkan solar Rp.1000,- bukankah solar itu banyak digunakan oleh mesin-mesin industri milik para pengusaha ?, apakah pengusaha lebih banyak mendapatkan subsidi daripada masyarakat yang berpendapatan kecil yang hanya memiliki kendaraan bermotor yang memerlukan premium?

Seharusnya yang lebih mahal itu solar, karena pengguna solar lebih besar adalah kalangan pengusaha yang memiliki mesin-mesin diesel di pabrik-pabrik mereka.

Jadi menurut analisa anda, apakah memang ada kartel yang mengendalikan perdagangan minyak ?  yang sengaja membuat proses pengolahan dan perdagangan minyak tidak efesien, sehingga mereka mendapat keuntungan dari kondisi itu dan harga memang "diatur" agar mereka mendapatkan keuntungan. Anda mungkin bisa menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...