28/06/13

Sebagai Perokok Saya Malu Membaca Ini



Sunggung memang saya malu saat membaca ini, ini tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh negara barat sana, saya lupa nama negaranya. Isi penelitiannya kurang lebih mengatakan ternyata penduduk negara berkembang seperti Indonesia pendapatannya sebesar 30% digunakan untuk membeli rokok.

Saya tertegun membacanya, dan berusaha mengamati sekeliling saya, dan itu bisa dikatakan benar. Bahwa benar lingkungan saya ternyata prianya rata-rata perokok dan di tempat kerja saya 8 dari 10 karyawannya ternyata perokok.

Di semua profesi pekerjaan, mulai dari buruh bangunan hingga pejabat tinggi dan pengusaha ternyata perokok dan penghasilan masyarakat banyak habis untuk membeli rokok daripada untuk kebutuhan lain seperti kesehatan dan asuransi. Sementara negara berkembang telah memposkan sebagian penghasilan mereka untuk investasi dan asuransi.

Ternyata rokok menjadi kebutuhan pokok di dalam masyarakat Indonesia setelah beras. Miris memang, tapi itulah potret bangsa kita. Banyak upaya telah dilakukan, mulai dari pelarangan iklan rokok di media massa, tulisan merokok itu merusak kesehatan di bungkus rokok dan larangan merokok di tempat umum dengan payung hukum Perda.

Pajak rokok pun ditingkatkan agar masyarakat merasa berat untuk merokok, namun cara itu tetap saja kurang efektif karena ternyata permintaan terhadap rokok terus meningkat dan tak pernah mengalami penurunan.

Itulah keadaan masyarakat kita saat ini, kecanduan terhadap rokok tenyata sudah sangat akut dan sulit untuk disembuhkan, 30% persen dari penghasilan digunakan untuk membeli sesuatu yang merusak kesehatan. Racun nikotin, tar dan lain-lain yang merupakan racun dihirup setiap hari, mulai dari satu bungkus perhari atau beberapa bungkus dimana satu bungkus rokok S****** saat ini berharga sekitar 13 ribu.

Jadi dalam satu hari bisa menghabiskan Rp.26 ribu dan bila dikalikan 30 hari, maka nilainya sekitar Rp.700 ribu. Dimana standar gaji bersih karyawan adalah sekitar 2 juta, maka penelitian negara tersebut bisa dikatakan benar.

Memang sangat sulit untuk berhenti merokok, rokok memiliki zat yang bisa membuat otak rileks, berhenti merokok mungkin bisa dilakukan saat pikiran sedang tenang, namun saat pikiran sedang stres rokoklah yang bisa mengurangi stres itu. 

Tapi dengan upaya terus-menerus, maka bisa dikurangi dan perlu perenungan bagi kita para perokok, berapa yang kita habiskan dalam sebulan hanya untuk rokok ? dan apa manfaatnya? Bagaimana jika pengeluaran untuk rokok itu kita investasikan untuk masa depan atau pengeluaran itu kita poskan untuk asuransi kesehatan untuk masa depan. Trims

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...