Berbisnis dan memperoleh
kesuksesan adalah sebuah kebanggaan, kesuksesan dunia bisnis menjadi impian
berjuta-juta orang di seluruh dunia. Memang siapa yang tidak mau sukses dan
memperoleh kemakmuran dan menikmati hidup dengannya.
Tetapi dibalik kesuksesan bisnis
sebenarnya banyak orang yang merasakan penderitaan, penderitaan menjadi tangga
yang harus dilalui oleh begitu banyak karyawan dalam perusahaan itu.
Memang hal itu secara hukum
ekonomi lumrah dan merupakan aturan dasar agar perusahaan tetap eksis dan bisa
menggaji karyawan lainnya.
Pernahkah kita sadari bagaimana
kesejahteraan para buruh yang menopang berdirinya sebuah perusahaan, agar
perusahaan bisa sukses dan memperoleh laba/keuntungan maka biaya produksi harus
ditekan habis apalagi menghadapi lawan saing yang memproduksi barang yang sama.
Kembali ke awal salah satu aspek
yang utama dalam produksi / jasa adalah adanya tenaga kerja. Tenaga kerja
menjadi sangat penting, karena tanpa tenaga kerja maka perusahaan tidak akan
menghasilkan apapun.
Upah tenaga kerja harus ditekan
serendah mungkin, bila perlu karyawan tidak digaji agar perusahaan bisa untung,
karena prinsip ekonomi yang dasar adalah “dengan modal sekecil-kecilnya
diperoleh keuntungan sebesar-besarnya”.
Maka tak heran sampai kapanpun
konflik antara perusahaan dan tenaga kerja akan terus terjadi dari dulu hingga
nanti saat perusahaan mati, atau gulung tikar. Lihat saja diberbagai jenis
perusahaan mulai dari usaha rumahan hingga perusahaan besar, konflik antara
perusahaan dan tenaga kerja akan terus terjadi.
Beberapa perusahaan yang memulai
dari bawah dan baru berkembang gaji yang dibayarkan kepada para buruhnya
sangatlah kecil, bahkan bisa dikatakan tidaklah manusiawi. Karyawan rumah makan
yang hanya digaji Rp.300.000,- perbulan atau perusahaan pembuat tahu yang
menggaji karyawan hanya dengan Rp.500.000,-. Belum lagi jam kerja yang dari
pagi sampai malam membuat sang buruh akan sakit paru-paru karena TBC akibat lemahnya
daya tahan tubuh karena kecapekan bekerja.
Sungguhlah tidak wajar jika saat
ini memiliki penghasilan 300 ribu perbulan, untuk makan saja itu tidaklah
cukup, jangankan untuk membeli pakaian, berpikir saja jauh. Tapi itulah potret
dunia bisnis, kejam dan tak peduli. Kejam dan tak peduli adalah modal yang
harus dimiliki oleh pengusaha jika pada saat memulai sebuah usaha karena pada
intinya siapa pun tidak akan peduli apabila perusahaan yang ia bangun mengalami
bangkrut atau gulung tikar.
Maka sebelum anda turun ke dunia
bisnis, bangunlah mental anda sekeras baja, jika tidak maka tinggal menunggu
saja waktunya anda akan jatuh dan mengalami kebangkrutan.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar