Menjalani kehidupan sebagai orang baik sepertinya tidaklah mudah, lingkungan, tempat kerja sekarang terlalu mahal untuk dibeli. Banyak orang yang tidak bisa berkembang dalam karir, pekerjaan dan menjabat posisi strategis karena terlalu keras menjalani hidup dengan kejujuran.
Pejabat tidak akan menjabat kalau tidak bisa bermain kotor dan bermanuver serta bersilat lidah dalam menjalani kegiatannya.
Orang yang tidak bisa diajak bekerja sama dan berjiwa "fleksibel" tidak mendapat kedudukan dalam sistem kekuasaan, tapi orang yang loyal dan siap berbuat apa saja kepada atasan akan terus dipakai dan berpeluang untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi.
Aneh memang, saat dua sisi kehidupan rohani dan kehidupan nyata bisa menjadi hal yang sangat berseberangan namun bisa menjadi alat yang sangat berpengaruh dan menjadi senjata pamungkas untuk meraih simpati dan menjadi simbol yang sebenarnya semua orang tahu bahwa itu hanyalah sebuah kebohongan.
Entah manusia ini suka berbohong atau suka dibohongi, tapi hal ini dianggap sah-sah saja oleh kita sendiri. Lihat saja para penjahat berdasi yang sering berpakaian ala rohani namun perilakuknya sangat jauh dari yang dicitrakan olehnya.
Tapi masyarakat masih saja memilihnya kembali saat orang itu kembali mencalonkan diri untuk menjadi pejabat.
Sementara orang baik dianggap kurang bermanfaat bagi lingkungan, karena hanya berbuat baik, mengajarkan yang baik tapi tidak memberikan "aksi nyata" dan feedback langsung kepada masyarakat. Masyarakat kini lebih memandang hidup sebagai realitas apa yang ia butuhkan saat ini.
Mayarakat telah melupakan bahwa ada kehidupan lain setelah ini, kehidupan dimana kita harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kita capai di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar