01/07/13

Pertemuan Iblis dan Rabbi

Kisah ini berasal dari buku Kahlil Gibran menceritakan sebuah kisah yang inspiratif dan membuka pola pikir yang yang jarang diungkapkan namun perlu menjadi bahan pemikiran buat kita semuanya.

Kisahnnya seperti ini :

Dahulu kala di sebuah wilayah di Timur Tengah hiduplah seorang imam yang disebut Rabbi (guru). Ia hidup dari mengkotbah dan mengajarkan agama serta mendoakan orang-orang yang ada disekitarnya.
Setiap hari ia memimpin doa dan kegiatan-kegiatan agama, mendoakan agar panen para petani tetap baik dan mendoakan suatu desa agar dihindarkan oleh marabahaya dan malapetaka lainnya.

Hidupnya berkelana pada suatu desa hingga desa lainnya dan hidup dari pemberian sukarela dari orang-orang yang didoakannya dan memperoleh hasil bumi dari para petani yang didoakannya. Hidupnya serba berkecukupan dan tiada kekurangan karena orang-orang yang didoakannya memberikan sebagian penghasilannya untuk sang Rabbi.

Suatu hari di suatu malam yang gelap, sang rabbi berjalan pulang dari desa yang baru saja dikunjungi dan didoakannya dan berjalan pulang menuju tempat tinggalnya didesa lain. Dan kebetulan pada malam itu malaikat Michael (Jibril) sedang bertempur hebat dengan Iblis.

Dalam pertarungan itu iblis sedang terpojok karena sang Michael menggunakan pedang sakti dan berhasil menikam sang Iblis sehingga Iblis terpaksa harus melarikan diri. Dalam pelarian itu sang Iblis dalam keadaan yang berdarah-darah dan hampir mati. Malaikat Michael akhirnya tidak bisa menemukan sang Iblis dan membiarkan Iblis melarikan diri.

Dalam pelarian sang Iblis bertemu dengan sang Rabbi. Sang Rabbi sangat terkejut bukan main melihat mahluk yang sangat mengerikan  sedang terkapar ditanah dan mengerang kesakitan.

Sang Rabbi berkata : “ Siapakah engkau wahai mahluk yang mengerikan ?” tanya sang Rabbi. Lalu jawab sang Iblis : “Wahai sang rabbi, janganlah banyak bertanya bantulah aku, basuhlah luka-lukaku karena kalau tidak aku akan segera mati”. Kemudian Rabbi bertanya lagi : “Aku tidak mengenal engkau, mana mungkin aku langsung membantumu, bisa saja kau adalah penjahat yang nanti akan membunuhku”. Iblis kembali berkata dengan suaranya yang lirih menahan rasa sakit, “Aku adalah Iblis, mahluk yang paling ditakuti dan dihindari oleh umatmu, bantulah aku agar aku bisa bertahan hidup”.


Dengan terkejut sang Rabbi berkata : “Terkutuklah engkau wahai Iblis, yang menyebabkan kesengsaraan dan kesulitan bagi manusia, kau hanyalah penggoda yang berusaha menyesatkan manusia, biarlah engkau mati karena itu semua setimpal dengan apa yang telah engkau perbuat selama ini”. Lalu dengan marah sang Iblis berkata : “Wahai sang Rabbi apakah engkau sadar dengan ucapanmu, tahukah engkau selama ini hidup karena siapa ? Karena aku, engkau mendapakan penghasilan dan penghidupan dengan menjelek-jelekkan aku”.
 "Setiap kali engkau mendoakan orang lain dan mendapatkan imbalan dari menghasutku agar manusia benci kepadaku dan menghindari aku agar tidak mendekati mereka."

"Jadi pernahkah engkau pikirkan bagaimana nasibku bila nanti aku tiada, manusia tidak akan takut lagi kepadaku dan tidak memerlukan doa-doamu lagi. Dari manakah nanti dirimu mendapatkan penghasilan untuk membiayai hidupmu. Manusia tidak akan lagi menghargaimu seperti saat ini, karena tidak ada lagi yang mereka takuti karena mengetahui aku telah mati “.

Kemudian sang Rabbi berpikir terhadap ucapan yang dikatakan oleh sang Iblis, dan dalam hati ia membenarkan perkataan sang Iblis bila memang Iblis tiada, bagaimana dengan masa depannya dan apakah ia bisa hidup dengan profesi yang lain. Sementara ia hanya memiliki keahlian sebagai pemuka agama.

Dengan berat rasa ketakutan dan gemetar akhirnya sang Rabbi memapah Iblis tersebut dan membersihkan luka yang ada pada Iblis dan membawanya kerumahnya dan merawatnya karena sang Rabbi akan kehilangan pekerjaan apabila sang Iblis Mati.

Tulisan ini bukanlah dibuat untuk mengkritik apa yang dilakukan oleh para imam-imam pemimpin agama, tapi paling tidak membuka pikiran kita, bahwa apa sebenarnya yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin agama kita saat ini.

Salam  Think out of the BoX

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...